Selasa, 07 Desember 2010

Cut Mutia


Cut Nyak Meutia lahir di Perlak, Aceh tahun 1870, yaitu tiga tahun sebelum perang Aceh - Belanda meletus. Pada usia muda ia sudah menikah dengan Teuku Muhammad, seorang pejuang yang lebih dikenal dengan nama Teuku Cik Tunong.

Sekitar tahun 1900 an banyak pejuang-pejuang Aceh yang tewas. Gerakan Belanda sudah sampai masuk kepedalaman Aceh. Cut Nyak Meutia suaminya memimpin perjuangan gerilya di daerah Pasai. Berkali-kali pasukan mereka berhasil didalam penyerangan-penyerangan terhadap Belanda. Melalui pihak keluarga, Belanda berusaha membujuk supaya Meutia menyerahkan diri kepada Belanda. Tapi bujukan tersebut tidak berhasil.

Pada Tahnu 1905 suaminya yaitu Teuku Cik Tunong ditangkap Belanda dan kemudian dijatuhi hukuman tembak. Sesuai pesan suaminya, Cut Meutia kemudian kawin dengan teman sahabat yang dipercayai oleh suaminya yang bernama Pang Nangru. Bersama suami yang barunya itu ia melanjutkan perjuangannya.

Waktu terus berjalan dan mereka selalu dalam pengejarang Belanda, bahkan mereka sudah sampai dipedalaman pelosok-pelosok rimba Pasai. Pada bulan September 1910 Pang Nangru tewas dalam pertempuran di Paya Cicem. Cut Meutia masih dapat meloloskan diri. Dengan seorang anaknya yang masih berumus sebelas tahun yang bernama Raja Sabil ia berpindah-pindah dipedalaman Rimba Pasai.

Pada tanggal 24 Oktober 1910 tempat Cut Meutia bersembungi dikepung Belanda dan Cut Meutia mengadakan perlawanan dengan menggunakan sebilah rencong akan tetepi tiga orang tentara Belanda melepaskan tembankan yang mengea kepada dan dua buah mengenai dadanya. Cut Meutia gugur pada saat itu juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar